Duor..duor..diar..daarrrrr…suara petasan dan erangan kembang api mewarnai malam lebaran di Kota Medan, tak beda dengan lebaran daerah lain di Indonesia, petasan dan kembang api selalu mewarnai gegap gempita melepas kepergian ramadhan. Entah apa maksudnya, menyulut kembang api dan petasan seakan ritual yang wajib dilakukan.
Bisa dikatakan bukan suatu hal yang aneh jika petasan dilekatkan dengan ritual kebiasan euforia menyambut lebaran. Namun, ada beberapa hal aneh — bahkan janggal yang mewarnai perayaan penyambutan idul fitri di kota Medan dan sekitar. Panggung nyanyian dan arak-arakan pawai sepeda motor keliling kota begitu mewarnai malam lebaran.
Seperti malam lebaran yang lalu, ku coba melewati jalan yang menghubungkan Deli Serdang menuju ke Kota Medan. Mulai dari daerah Mabar, Tanjung Mulia, Helvetia hingga ke daerah tengah Kota Medan. Ratusan muda mudi berarakan naik kereta (sebutan lokal untuk sepeda motor) keliling kota, seakan melupakan esensi malam lebaran. Mereka berboncengan muda mudi berpasangan, tanpa helm dan dengan tanpa aturan berkendara. Seperti arak-arakan kampanye saja–pikirku.
Apa maksud semua kelakuan mereka, adat kebiasan apa yang mereka anut. Malam Suci menyambut Idul Fitri digunakan untuk hal-hal seperti itu. Seperti kehilangan makna lebaran, seperti euforia menyambut hari kemenangan, hari kemenangan — terbebas dari belenggu puasa yang melarang meraka makan dan minum, hari kebebasan–bebas mengumbar segala sesuatu yang dilarang ketika mereka berpuasa.
Tak seperti di Jawa, misalnya di Gresik (tempat lahirku). Tak ada arak-arakan pawai kendaraan keliling kota hanya untuk pawai bak arak-arakan kampanye, kalaupun ada — itupun hanya pawai kendaraan mobil yang mengangkut jamaah takbir menuju ke alun-alun kota depan masjid Jami’.
Ahhhh….perayaan macam apa ini????
Zzzzz….Zzzzzz…Zzzzz… Masih terngiang malam lebaran 2 tahun yang lalu di kampung.
Suasana syahdu dan memberikan esensi yang kuat dari sebuah makna pembebasan diri dari dosa setelah sebulan lamanya berada di ajang pembersihan diri bernama Puasa. Minal ‘Aidzin wal faizin, taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya kariimmm….. Minal a’idin wal fa’izin, mohon maaf lahir dan bathin.

3.585242
98.675598