Kangen Nggak Sama Yang Ini ….?

April 12, 2011

KOTA MALANG DAN SEKITARNYA…!

Alun-alun Kota Malang (beauty Night view)Tugu Kota Malang di Malam Hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alun-alun Kota Malang (Beauty Midday View)Alun-alun kota malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alun-alun Kota Malang (With Mosque View Background)

Alun2 Kota malang (Mosque Background View)

 

 

 

 

 

 

 

 

Alun-alun Kota Batu

Alun-alun Kota Batu

 

 

 

 

 

 

 

 

Gajayana Stadium (Sore2 nonton bencong main Volley ball)

Stadion Gajayana

 

 

 

 

 

 

 

Masjid Agung Kota Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

Sarinah Plaza

Plaza Saranah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasar Splendit (Fish ‘n Bird Market)

Pasar Iwak n manuk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bale Kambang Beach

SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI 1431 H

September 10, 2010

Lebaran Rantau ; Jilid 2

September 9, 2010

Duor..duor..diar..daarrrrr…suara petasan dan erangan kembang api mewarnai malam lebaran di Kota Medan, tak beda dengan lebaran daerah lain di Indonesia, petasan dan kembang api selalu mewarnai gegap gempita melepas kepergian ramadhan. Entah apa maksudnya, menyulut kembang api dan petasan seakan ritual yang wajib dilakukan.

Bisa dikatakan bukan suatu hal yang aneh jika petasan dilekatkan dengan ritual kebiasan euforia menyambut lebaran. Namun, ada beberapa hal aneh — bahkan janggal yang mewarnai perayaan penyambutan idul fitri di kota Medan dan sekitar. Panggung nyanyian dan arak-arakan pawai sepeda motor keliling kota begitu mewarnai malam lebaran.

Seperti malam lebaran yang lalu, ku coba melewati jalan yang menghubungkan Deli Serdang menuju ke Kota Medan. Mulai dari daerah Mabar, Tanjung Mulia, Helvetia hingga ke daerah tengah Kota Medan. Ratusan muda mudi berarakan naik kereta (sebutan lokal untuk sepeda motor) keliling kota, seakan melupakan esensi malam lebaran. Mereka berboncengan muda mudi berpasangan, tanpa helm dan dengan tanpa aturan berkendara. Seperti arak-arakan kampanye saja–pikirku.

Apa maksud semua kelakuan mereka, adat kebiasan apa yang mereka anut. Malam Suci menyambut Idul Fitri digunakan untuk hal-hal seperti itu. Seperti kehilangan makna lebaran, seperti euforia menyambut hari kemenangan, hari kemenangan — terbebas dari belenggu puasa yang melarang meraka makan dan minum, hari kebebasan–bebas mengumbar segala sesuatu yang dilarang ketika mereka berpuasa.

Tak seperti di Jawa, misalnya di Gresik (tempat lahirku). Tak ada arak-arakan pawai kendaraan keliling kota hanya untuk pawai bak arak-arakan kampanye, kalaupun ada — itupun hanya pawai kendaraan mobil yang mengangkut jamaah takbir menuju ke alun-alun kota depan masjid Jami’.

Ahhhh….perayaan macam apa ini????

Zzzzz….Zzzzzz…Zzzzz… Masih terngiang malam lebaran 2 tahun yang lalu di kampung.

Suasana syahdu dan memberikan esensi yang kuat dari sebuah makna pembebasan diri dari dosa setelah sebulan lamanya berada di ajang pembersihan diri bernama Puasa. Minal ‘Aidzin wal faizin, taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya kariimmm….. Minal a’idin wal fa’izin, mohon maaf lahir dan bathin.

Ramadhan Rantau V.2.1 (beta)

September 9, 2010

Alarm hp diatur berdering jam 03.50 WIB, tapi seperti malam-malam sebelumnya — aku selalu bangun mendahului erangan alarm yang bunyi cuma sekali itu, meskipun tidurku sangat larut — 01.30 WIB.

makan sahur seadanya, nasi padang bungkus yang kubeli sekalian saat makan buka puasa petang tadi, diselingi sruputan kopi ginseng kukubima. dua menu wajib itulah yang kusantap saat sahur tadi, tak ada beda dengan makan sahur malam sebelumnya selama 29 hari yang lalu– selalu begitu.

makan sahur terakhir di bulan ramadhan tahun ini–pikir ku. padahal sudah kurencanakan untuk sahur terakhir ini aku ingin sahur dengan menu yang agak “mewah”. Tapi dasar blo’on, lupa ku beli menu mewah itu–bahkan sudah banyak kedai makan yang tutup ditinggal mudik oleh inangnya.

acemmm….cuma ini menu sahurnya, sepotong ikan tongkol yang tekstur dagingnya terasa keras plus kuah kuning yang sudah terasa kecut.

masih terngiang menu sahur dirumah yang disiapkan oleh ibu tercinta….

Zzzzz….Zzzz….Zzzz….

Ramadhan Rantau V.2.0

September 8, 2010

Sudah 2 Ramadhan ini tinggal di rantau pulau seberang, masih seperti ramadhan yang lalu — ramadhan kali ini pun sepi tak bergairah, tak seperti ramadhan di kampung halaman yang sangat sakral n “romantis”. Hiruk pikuk nuansa puasa di kampung yang begitu kental nampak layu di negeri seberang, entah karena apa?

Setiap malam hanya dihabiskan untuk duduk didepan tv dan layar komputer, pagi hingga petang menjelang habis untuk urusan duniawi.

Tak ada secuil rasa dan gairah ibadah, paling-paling hanya rawatib dan sedikit murottal — itupun kalo sempat, malah banyak tak sempatnya. Miris mengiris rasanya, sembab mata membatinnya.

Lebaran H-1, masih seperti malam-malam sebelumnya. Tafakkur di hadapan layar komputer. Entah mau mencari apa di dunia maya, atau sekedar lihat update status FB, atau iseng2 browsing tak karuan.

Malam ini, masih seperti malam sebelumnya. Sendiri ditemani segelas kopi sisa buka puasa tadi, disanding sebungkus rokok yang dah lama berniat menghilangkan kebiasaan itu.

Suara jangkrik dari kebun belakang rumah, gemericik bocoran air kran kamar mandi dan desingan PC menyatu menemaniku malam ini. Seakan terlampau lelap tidurku siang tadi, memaksaku untuk tak tidur terlalu cepat. Masih seperti malam yang lalu, insomnia masih menderaku.

Tadi pagi sudah ku transfer sejumlah uang ke rekening adikku, untuk bayar zakat fitrah yang sengaja ku bayarkan di kampung halamanku, beberapa rupiah kusisihkan untuk berbagi kesenangan dengan 2 adikku yang masih kecil, sekedar untuk beli baju lebaran atau malah mereka habiskan untuk membeli mercon — terserah mereka berdua.

Masih terngiang kisah lebaran tahun lalu, sendiri tanpa keluarga……

Zzzz…Zzzz…Zzzzz……


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.