Arsip untuk ‘Lets Write’ Kategori

Banyak membaca, modal untuk menulis lancar

Mei 22, 2008

membaca membaca membaca membaca

Banyak penulis pemula yang berhenti menulis gara-gara mentok ide dan gagasan. “malas nulis ahh, lagi nggak punya ide” mugkin demikian yang mereka katakan, seakan-akan bagi mereka gagasan dan ide merupakan hal yang sangat prinsip dan idealis, sehingga mereka sering terpenjara dalam pikiran mereka tentang ide dan gagasan. Sebenarnya ide dan gagasan sudah ada di sekitar kita, lingkungan kita dengan sendirinya sudah memunculkan dan menciptakan ide dan gagasan penulisan bagi kita, tinggal kita saja yang harus peka dan sensitif untuk merasakan ide dan gagasan itu sendiri.

Ide dan gagasan penulisan bukan harus sesuatu yang tinggi, bukan sesuatu yang sakral dan penuh semangat provokatif, penulis pemula sering merasakan bahwa ide tulisan harus seperti itu. Padahal tidak harus, ide penulisan boleh saja sederhana, simpel, malah sangat boleh ide penulisan “tidak berbobot” sama sekali, karena yang membuat tulisan menjadi enak dibaca bukan pada ide semata-mata, namun banyak hal yang dapat digunakan untuk menghidupkan tulisan. Untuk menghidupkan tulisan bisa dilakukan dengan memfokuskan masalah yang dikupas, mempertegas penokohan, memperuncing konflik antar tokoh atau juga dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa “gaul” yang sedang marak dipakai.

Bagaimana caranya agar penulis pemula mudah mendapatkan ide dan gagasan penulisan ?. Jawabannya adalah banyak membaca. Ya, banyak membaca adalah suatu yang “sangat harus” dilakukan oleh penulis pemula (orang yang ingin menjadi penulis). Membaca adalah langkah pertama yang harus segera dilakukan oleh penulis.

Membaca apapun, buku apapun; buku sains, buku agama, buku ekonomi, komik, buletin, majalah, koran, bahkan selebaran dan pamflet pun boleh dibaca. Jangan terpaku pada satu bidang tertentu saja dalam hal membaca buku bacaan, misalnya anda sangat suka buku sains saja, boleh saja. Namun, apabila anda senang membaca buku bacaan dengan berbagai bidang bahasan, maka anda semakin banyak memperoleh referensi tentang tulisan yang akan anda tulis nantinya.

Apabila anda sedang mencari setting cerita, maka seyogyanya anda sudah membaca banyak buku ensiklopedia yang mengupas berbagai tempat di dunia ini. Boleh juga membaca selebaran agen perjalanan langganan kakek anda, membaca buletin yang disebar oleh departemen pariwisata dan bacaan lain yang menjelaskan berbagai keunikan banyak tempat di seantero dunia. Kalau anda sudah membaca buku-buku ini, anda tidak perlu pergi jauh-jauh survey ke Lembah Baliem jika anda berniat membuat cerita percintaan antara Fransiska dan Markus yang mengikat janji sehidup semati di lembah itu atau anda tidak perlu merogoh uang untuk tiket ke Mesir demi mencari setting tempat yang cocok untuk cerita pergolakan si cantik Aisyah menolak perjodohan yang terjadi di pedalaman Alexandria.

Ketika anda hendak menuliskan cerita fiksi ilmiah, anda harus sudah membaca berbagai buku biografi Mas Thomas A. Edison dan Mbah Einstein atau kumpulan artikel ilmiah yang mengupas teori penciptaan, teori molekuler, teori evolusi, dan teori-teori lainnya yang akan sangat mendukung tulisan anda. Kalau itu tidak anda lakukan, maka pasti anda akan kesulitan untuk menggambarkan bagaimana jerapah berleher panjang, padahal kata para ahli evolusi dulunya jerapah berleher pendek, atau saat anda akan menggambarkan suasana masa kecil einstein yang penuh penderitaan, maka anda tidak boleh memberikan gambaran seperti masa kecil anda yang penuh keriangan dan kegembiraan.

Bahan bacaan memang sudah menjadi salah satu modal untuk menulis, seperti para mahasiswa yang akan membuat skripsi. Maka yang menjadi salah satu syarat adalah banyak membaca, karena bacaan adalah referensi yang nantinya akan menjadi pedoman penulisan dan acuan penelitian serta sebagai bahan untuk pembahasan hasil penelitian mereka. Karena tidak dapat diterima apabila skripsi tidak mempunyai bahan acuan untuk mendukung asumsi mereka. Sangat mustahil khan apabila mahasiswa menuliskan hasil penelitian tanpa acuan ilmiah yang jelas.

Jadi, kalau anda hendak menulis, maka banyak-banyaklah membaca.

Julurkan tangan menjadi Penulis

April 29, 2008

Banyak kalangan yang berangan-angan menjadi penulis, apalagi akhir-akhir ini banyak penulis yang lagi naik daun, tunjuk saja mas Andrea Hirata “Laskar Pelangi”, Kang Abib “ayat2 cinta” dan masih banyak lagi. sekarang, penulis Indonesia lebih beruntung nasibnya dibanding dahulu. Para penulis, baik penulis novel, cerpen atupun penulis essay sudah dijadikan ikon baru dunia, mereka sudah disejajarkan dengan para artis dan selebritis, tanda tangan mereka semakin diburu oleh penggemarnya.

Bagaimana untuk menjadi seperti mereka, menjadi penulis. Tentunya berat tantangannya, menjadi penulis tidak semudah menjadi aktor yang cukup dengan wajah indo dan sedikit kemampuan peran sudah dapat tampil di layar kaca. Tidak begitu untuk menjadi penulis, banyak yang harus dipersiapkan, mulai hal-hal sepele seperti banyak mengumpulkan bahan bacaan hingga penggalian ide.

Menulis Butuh Persiapan yang matang. Pertama kali yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin jadi penulis adalah Niat dan keinginan untuk menulis. Niat dan keinginan harus selalu dipupuk, ditumbuhkan dan selalu diperkuat. Kalau niat sudah beres, maka langkah selanjutnya adalah mengumpulkan referensi awal. Referensi dapat berupa apa saja, Mas Gola Gong mengumpulkan banyak bahan bacaan sebelum menjadi penulis hebat seperti sekarang. Bagi beliau, bahan bacaan (buku) adalah bagaikan harta karun yang harus disimpan, buku bagi beliau juga merupakan peluru yang nantinya pasti akan kita butuhkan. Kita harus banyak-banyak mengumpulkan buku-buku bacaan, buku tentang apapun ; buku agama, buku pelajaran sekolah, majalah, komik atau yang lain. Bahan bacaan itu berguna sebagai bahan asupan yang bergizi bagi pertumbuhan dan kemampuan menulis kita. dari bacaan itu, kita dapat mempelajari bahasa yang baik, mempelajari cara dan model tulisan, mempelajari sudut pandang penulis, memperbanyak ide dan lain-lain.

Setelah kita mempunyai “persenjataan” dan “modal” yang memadai, maka selanjutnya adalah mencoba. Mencoba menulis apapun, nggak usah takut untuk menulis, nggak perlu banyak-banyak, 100 atau 200 kata boleh lah. Mulai dengan menuliskan pengalaman bertemu seorang gadis saat sekolah kemarin, mulai dengan menulis pengalaman tentang berbelanja dengan ibu dipasar, nggak usah yang berat-berat dulu, mulailah dengan yang terjadi disekitar kita dan hal-hal yang sepele. Kalau anda masih belum mampu untuk menuliskan hal itu, ada cara jitu dari penulis top, “Copy from the master” . ya, mencontoh adalah jurus pamungkas untuk memulai penulisan. Cari tulisan dari penulis favorit anda, kecuali kata-katanya, semua yang ada di tulisan itu dapat anda jadikan “milik anda”, mulai dari tema, alur, setting, konflik antar tokoh dapat anda jiplak, anda tinggal mengganti kata-katanya saja, bila penulis favorit menuliskan rokok maka anda dapat menggantinya dengan lintingan, kalo penulis favorit menuliskan hotel maka anda dapat menggantinya dengan “kelas melati” dan sebagainya dan sebagainya. Manfaat “copy From The Master” adalah anda akan mendapatkan model penulisan, mendapatkan cara penentuan alur dan sebagainya, meskipun selanjutnya juga diharuskan untuk menentukan model tulisan anda sendiri (itupun tidak mutlak). Tapi dari Copying itu anda sudah melangkahkan kaki anda ke dunia kata-kata.

Langkah selanjutnya setelah anda mantap dengan niat dan proses “belajar” form the master adalah pencarian ide tulisan. Tahapan ini dapat dilakukan dengan travelling, ya klenceran kalau dalam bahasa jawa. Bepergian ini tidak berehenti di makna sebenarnya yaitu pergi beranjak ke suatu daerah, anda bisa menonton tv yang punya acara jalan-jalan, melancong yuk, jejak petualang atau lainnya. tahap ini bermanfaat untuk memperkaya imajinasi anda terhadap banyak tempat, budaya, cara hidup dan sebagainya yang nantinya akan anda tuliskan dalam tulisan anda. Pastinya dalam menulis anda akan dihadapkan pada penentuan setting, latar dan penokohan. dari “travelling” inilah anda mendapatkan banyak masukan untuk penulisan anda.

Masih Banyak trik-trik yang harus anda miliki untuk menjadi penulis, maka anda harus Nekat dan mantap bulat untuk memasuki dunia kata-kata. Nekat untuk menulis, tulislah apa saja, jangan takut kalau nantinya tulisan anda jelek, nggak usah was-was kalau nantinya pembaca nggak mengerti apa yang anda tulis, pokoknya terus belajar untuk menjadi penulis, belajar untuk Istiqomah menulis. Kunci sukses untuk menjadi penulis adalah dengan terus menulis itu sendiri, tidak ada cara yang lain.

Menulis yuuk…!

April 23, 2008

Menulis adalah sebuah lanjutan dari tahapan belajar manusia. Setelah manusia dapat mendengar, melihat dan membaca, maka menulis adalah tahapan berikutnya. Tidak boleh tidak, menulis harus dilakukan.

“le Tulisen utang’e bapakmu, cek’e sesuk nek ono opo-opo gak keteteran awakmu”. Mungkin salah satu manfaat dari menulis adalah terciptanya pembuktian kuat terhadap suatu hal. Namun, tidak hanya dalam sektor utang piutang saja. Bidang lain pun penting, termasuk dalam hal pembuktian kuat terhadap eksistensi peradaban. Telah banyak ditemukan berbagai tulisan berbentuk pahatan pada dinding goa purba yang mengisahkan peradaban kuno, hal tersebut membuktikan dengan kuat bahwa pada suatu masa telah hidup suatu peradaban jauh sebelum peradaban pensil staedler atupun keyboard phoenix.

Menulis tidak hanya akan membawa pembuktian kuat terhadap eksistensi peradaban saja, akan tetapi juga merupakan pembuktian kuat terhadap eksistensi individu. Manusia belum dianggap manusia kalau belum dapat menulis, mungkin secara kasar dapat dibilang begitu. Namun, bila ditilik dari sudut pandang penulis, kontinyuitas tulisan merupakan suatu pembuktian kuat terhadap eksistensi penulis itu sendiri. Tengok saja para penulis, apakah itu penulis kolom, cerpen, cerbung, essai, tulisan ilmiah, ataupun para penulis yang ngendon di blog. Mereka menulis bukan karena niat materi semata, namun karena adanya gairah dan desakan jiwa akan tuntutan eksistensi. Menulis bagi para penulis seakan-akan mereka dengan gagah berseloroh kepada pembaca bahwa ini loh saya masih hidup, bila para penulis sudah tidak dapat lagi menulis atau minimal kuantitas penulisannya mampet akibat pontang-panting membanting tulang untuk mencari biaya susu putra-putrinya, seakan-akan mereka telah mati dari dunianya sendiri, yaitu dunia huruf dan kata.

Menulis bagi para penulis harus tetap dilakukan, dalam suasana apapun, kondisi sosial apapun, kondisi keuangan yang macet sekalipun, mereka akan tetap dan harus menulis. tengok saja mas Gola Gong yang tetap menulis meskipun tangannya tinggal satu karena diamputasi, kang habiburrahman el shirazy yang mantap jiwa kepenulisannya meskipun hanya untuk beranjak ke teras harus dibantu dengan kursi roda, atau mbak y (maaf lupa namanya) yang telah menghasilkan banyak buku meskipun lumpuh total namun masih sanggup untuk mengukir kata-kata. Pendek kata, himpitan fisik dan dunia tidak dapat membendung jiwa penulis untuk tetap dan terus tetap menulis.

Kang Gola Gong menuliskan tips awal untuk menulis yaitu ; “tulislah apapun, jangan berpikir bagaimana nanti orang akan berkomentar apa terhadap tulisan yang telah anda buat. Jangan takut kalau tulisan anda jelek atau kata-katanya salah, jangan takut kalau nantinya pembaca tidak akan mengerti apa yang anda tulis.”

Jadi, ayo menulis, apalagi sekarang teknologi sudah mendukung. Dengan pencet sana sini di keyboard, daftar blog, posting, udah deh, tulisan anda bakal bisa dibaca di ujung dunia sekalipun asal jaringan net masih ada. Gak usah takut salah, karena kesalahan penulisan akan membawa kita menuju ke cara penulisan yang benar.